Talkshow….

 

Talk Show atau gelar wicara adalah suatu jenis acara televisi atau radio yang berupa perbincangan atau diskusi seorang atau sekelompok orang “tamu” tentang suatu topik tertentu (atau beragam topik) dengan dipandu oleh pemandu gelar wicara. Tamu dalam suatu gelar wicara biasanya terdiri dari orang-orang yang telah mempelajari atau memiliki pengalaman luas yang terkait dengan isu yang sedang diperbincangkan. Suatu gelar wicara bisa dibawakan dengan gaya formal maupun santai dan kadang dapat menerima telepon berupa pertanyaan atau tanggapan dari pemirsa atau orang di luar studio. (dikutip dari sumber Wikipedia Indonesia)

Acara Talk Show di televisi maupun radio sudah begitu banyak macamnya, namun disini Penulis hanya mengambil contoh dari beberapa Talk Show yang hadir di televisi dimana benar-benar memiliki kualitas diantaranya :

1. Mata Najwa (Metro TV)

Apa sisi menarik dari Mata Najwa, dari apa yang Penulis perhatikan bukan saja program acaranya dibawa secara ekslusif akan tetapi juga memiliki sosok figur didalamnya yaitu Ibu Najwa Shihab. Sosok yang Penulis katakan cerdas dan kritis dalam bertanya, siapapun yang menontonnya dapat dibuat terpukau bagaimana setiap kali beliau membawakan program acara tersebut. Dilain pihak tokoh-tokoh yang diundang ke dalam program acara Mata Nazwa seringkali banyak menarik perhatian publik dari segi keingintahuan dan untuk mendapatkan informasi yang seakurat-akuratnya. Materi-materi yang dibawakannya pun beragam tidak terbatas dari apa yang sedang publik ramai bicarakan, namun juga materi yang terkadang terlupakan maupun kurang diperhatikan.

2. Kick Andy (Metro TV)

Program acara ini dipandu oleh Bapak Andy F. Noya, apa yang menarik dari Talk Show ini? Format program acara ini dibuat santai dengan menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif. Dari segi pertanyaan yang diutarakan pun tidak terlalu serius dan menghibur sehingga siapapun yang menontonnya seolah larut (merasakan) bahkan sampai dibuat terkagum-kagum dengan apa yang diceritakan dan apa yang dialami oleh tokoh tersebut.

3. Sentilan Sentilun (Metro TV)

Kolaborasi Bapak Slamet Rahardjo dan Bapak Butet Kartaredjasa, Penulis katakan sebagai sesuatu kombinasi yang sempurna. Dengan menggambarkan sosok tuan dan pembantu mengundang daya tarik tersendiri yang menontonnya. Tokoh-tokoh yang diundang dalam program acara ini meliputi pakar ahli maupun segelintir tokoh kenamaan yang publik kenal. Program acara ini dikemas agar menghibur, namun tidak meninggalkan dasar inti tujuan program acara agar informatif dengan membahas materi yang sedang hangat dibicarakan oleh publik.

4. Ini Talk Show (Net.)

Sebagai stasiun televisi yang belum lama hadir menghiasi layar kaca pemirsa, Net. bisa dibilang sangat cermat melihat program acara apa yang diminati oleh masyarakat dan salah satu program acara menarik tersebut yaitu Ini Talk Show. Dipandu oleh Andre dan Sule serta beberapa peran pembantu lainnya, menghadirkan sebuah tayangan Talk Show sederhana namun sangatlah menghibur dimana seringkali tingkah konyol Andre dan Sule membuat tawa menjadi daya tarik untuk menontonnya. Tokoh-tokoh yang diundang ke program acara ini umumnya kalangan artis dan materi yang dibawakan dalam cakupan dunia hiburan maupun hal yang perhatian publik di media sosial.

Tayangan program acara Talk Show diatas kiranya Penulis anggap dapat mewakili dari beragam Talk Show berkualitas dan menghibur lainnya tanpa menyisihkan sisi informatif dan edukatif kepada masyarakat yang menontonnya. Mungkin yang membuat miris Penulis yaitu adanya beberapa Talk Show yang hanya bersifat komersil atau mengejar rating tinggi tanpa memikirkan kualitas mutu (bahkan terlihat seronok) program acara tersebut demi keuntungan semata. Seolah-olah ada maksud tujuan tertentu, seperti memperkeruh suasana (memberikan persepsi negatif kepada masyarakat) dan mempublikasi (pencitraan) tokoh tersebut sehingga Talk Show dijadikan sebagai ajang provokasi dan promosi (agar tenar) maupun (menaikkan rating) program acara keseluruhan yang dimiliki oleh stasiun televisi itu sendiri.

Televisi sudah selayaknya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam keseharian masyarakat, tentunya hal tersebut tersimpan dampak yang sewaktu-waktu bisa saja muncul. Oleh karena itu kembali lagi kita disini (Penulis dan pembaca) selaku penikmat televisi untuk lebih bijak lagi memilih program acara yang kiranya memiliki kualitas baik dari segi manfaat, mendidik, dan bermartabat. Semoga saja kedepannya akan bermunculan program acara yang memiliki aspek tersebut demi generasi bangsa yang lebih baik. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Semoga bermanfaat dan terima kasih.

NEWS

Kisah perempuan yang diperkosa di hari pernikahannya

Hak atas foto JOSSE JOSSE
Image caption Terry Gobanga lolos dari maut, saat sekelompok pria memperkosanya di hari pernikahannya.

Ketika Terry Gobanga tidak muncul dalam acara pernikahannya, tak ada seorang pun yang menduga bahwa ia telah diculik, diperkosa dan ditinggalkan dalam keadaan nyaris meninggal di pinggir jalan. Ini adalah peristiwa pertama dari dua tragedi yang menimpa sang pendeta muda dari Nairobi itu. Berikut Terry mengisahkannya kepada BBC.

Hari itu adalah hari pernikahan saya. Saya adalah seorang pendeta, jadi semua jemaat gereja kami datang, begitu pula semua saudara kami. Tunangan saya, Harry, dan saya sangat senang. Kami menikah di Katedral All Saints di Nairobi dan saya sudah menyewa sebuah gaun yang cantik.

Namun pada malam sebelum pernikahan, saya baru menyadari bahwa pakaian Harry, termasuk dasinya tertinggal di rumah saya. Ia tidak bisa menikah tanpa mengenakan dasi. Karena itu, seorang teman yang menginap malam itu menawarkan untuk mengantarkan pakaian ke rumah Harry di pagi hari. Kami bangun pagi-pagi buta dan saya mengantarnya ke stasiun bus.

Saat saya kembali ke rumah, saya berjalan melewati seorang pria yang sedang duduk di atas kap mobil. Tiba-tiba ia menarik saya dari belakang dan merebahkan saya di kursi belakang. Ternyata ada dua pria menunggu di dalam mobil, dan mereka langsung mengemudikan mobil. Semuanya terjadi dalam sepersekian detik.

Mulut saya disumpal dengan potongan kain yang saya kenakan. Saya menendang, memukul dan mencoba menjerit. Ketika saya berhasil membuka mulut saya yang dibungkam, saya berteriak: “Ini hari pernikahan saya!” Saat itulah saya mendapat pukulan pertama. Salah seorang pria itu menyuruh saya untuk “bekerja sama atau saya akan mati”.

Hak atas foto TERRY GOBANGA
Image caption Terry mengisahkan semua orang mencarinya karena tak muncul dalam upacara pernikahan.

Laki-laki itu bergantian untuk memperkosa saya. Saya yakin saya akan mati, tapi saya masih berjuang agar tetap hidup. Ketika salah seorang pria melepas kain yang menyumpal mulut saya, saya langsung menggigit alat vitalnya. Ia menjerit kesakitan, lalu salah satu dari mereka menusuk perut saya. Kemudian mereka membuka pintu dan menendang saya keluar dari mobil yang tengah melaju.

Saya berada di tempat yang ratusan kilometer jaraknya dari rumah, di luar kota Nairobi. Lebih dari enam jam berlalu sudah sejak saya diculik.

Seorang anak melihat saya dibuang di jalanan dan memanggil neneknya. Orang-orang datang berlarian. Ketika polisi datang, mereka mencoba memeriksa nadi saya, namun tak ada seorang pun yang bisa mendengar detak jantung saya. Mereka pikir saya sudah mati, lalu membungkus badan saya dengan selimut dan mulai membawa saya ke kamar mayat.

Tapi dalam perjalanan ke sana, saya tersedak dalam selimut dan terbatuk. Polisi itu berkata, “Ia masih hidup?” Dia kemudian memutar balik kendaraannya dan mengantar saya ke rumah sakit pemerintah terbesar di Kenya.

Saya tiba di rumah sakit dalam keadaan terguncang, bergumam tak jelas. Saya setengah telanjang dan berlumuran darah, dan wajah saya bengkak karena ditinju. Tapi ada sesuatu yang mengingatkan seorang kepala perawat, karena dia menduga saya adalah seorang pengantin perempuan.

“Mari kita tanya ke gereja-gereja untuk mencari tahu apakah mereka kehilangan pengantin perempuan,” katanya pada para perawat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption All Saints Cathedral adalah gereja katedral Anglikan tertua di Nairobi.

Secara kebetulan, gereja pertama yang mereka hubungi adalah All Saints Cathedral. “Apakah Anda kehilangan seorang pengantin perempuan?” tanya perawat itu.

Lalu pengurus gereja mengatakan: “Ya, ada pernikahan jam 10 dan pengantin perempuan tidak datang.”

Ketika saya tidak datang ke gereja, orang tua saya panik. Orang-orang pun disebar untuk mencari saya. Desas-desus beredar. Beberapa orang bertanya-tanya: “Apakah ia berubah pikiran?” Sementara yang lainnya mengatakan: “Tidak, ini bukan sifat dia, apa yang terjadi?”

Setelah beberapa jam, mereka akhirnya harus membongkar dekorasi karena ada upacara lain yang akan dilangsungkan. Harry, sang pengantin laki-laki menunggu di ruang lain di dalam gereja.

Ketika mereka mendengar tentang keberadaan saya, orang tua saya datang ke rumah sakit bersama seluruh rombongan. Harry membawa gaun pengantin saya. Namun peristiwa ini sudah didengar media, jadi ada banyak wartawan di sana.

Saya dipindahkan ke rumah sakit lain sehingga saya memiliki lebih banyak privasi. Di sanalah para dokter menjahit luka-luka yang saya serita dan memberitahu saya kabar buruk: “Luka tusukan menembus jauh ke dalam rahim Anda, jadi Anda tidak bisa punya anak.”

Hak atas foto TERRY GOBANGA
Image caption Luka yang dialami Terry sangat parah, sehingga dokter memvonisnya tidak akan memiliki anak.

Saya diberi obat kontrasepsi, juga obat antiretroviral untuk melindungi saya dari HIV dan AIDS. Pikiran saya tertutup, menolak menerima apa yang telah terjadi.

Harry terus mengatakan bahwa ia masih ingin menikah dengan saya. “Saya ingin menjaganya dan memastikan ia kembali sehat dalam pelukan saya, di rumah kami,” katanya. Sejujurnya, saya tidak berada dalam posisi untuk mengatakan ‘Ya’ atau ‘Tidak’, karena pikiran saya dijejali dengan wajah ketiga pria itu, dan dengan segala sesuatu yang telah terjadi.

Beberapa hari kemudian, saat obat penenang mulai berkurang, saya bisa menatap matanya. Saya terus meminta maaf. Saya merasa telah mengecewakannya. Beberapa orang mengatakan itu merupakan kesalahan saya sendiri yang telah meninggalkan rumah di pagi hari. Sungguh menyakitkan, tapi keluarga saya dan Harry mendukung saya.

Polisi tidak pernah menangkap para pemerkosa itu. Saya menanti dan menanti, tapi saya tidak mengenali satu pun dari para pemerkosa itu, dan itu menyakitkan bagi saya. Saya memulihkan kondisi saya – 10 langkah maju, 20 mundur. Pada akhirnya saya kembali ke kantor polisi dan berkata: “Saya sudah selesai, saya hanya ingin menyelesaikannya.”

Tiga bulan setelah serangan itu terjadi, saya diberitahu bahwa saya negatif terkena HIV dan saya sangat bersemangat, tapi mereka mengatakan bahwa saya masih harus menunggu tiga bulan lagi untuk memastikannya. Meski begitu, Harry dan saya mulai merencanakan pernikahan kedua kami.

Meski saya sangat marah dengan gangguan pers, seseorang membaca kisah saya dan meminta untuk menemui saya. Namanya Vip Ogolla, dan ia juga seorang korban perkosaan. Kami berbicara, dan ia mengatakan kepada saya bahwa dirinya serta dan teman-temannya ingin menggelar pernikahan saya, tapi saya tidak perlu keluar uang sepeser pun. “Lakukan apa saja, apapun yang kamu mau,” katanya.

Saya sangat gembira. Saya bisa memilih berbagai kue pesta, yang lebih mahal. Selain bisa menyewa gaun, saya pun bisa memiliki baju pengantin lainnya.

Pada Juli 2005, tujuh bulan setelah pernikahan kami yang pertama direncanakan, Harry dan saya menikah dan pergi berbulan madu.

Hak atas foto TERRY GOBANGA
Image caption Harry Olwande dan Terry di hari pernikahannya, July 2005.

Selang 29 hari kemudian, di suatu malam yang dingin, kami berada dalam rumah. Harry menyalakan kompor arang dan membawanya ke kamar tidur. Setelah makan malam, ia memindahkannya karena ruangan itu benar-benar hangat. Saya berada di bawah selimut saat ia mengunci rumah. Saat di tempat tidur ia mengatakan merasa pusing, tapi kami tidak pikir tidak ada apa-apa.

Malam itu begitu dingin, sehingga kami tidak bisa tidur, jadi saya menyarankan untuk membawa selimut lagi. Tapi Harry mengatakan ia tidak bisa membawanya karena tidak kuat. Anehnya, saya juga tidak bisa beranjak. Kami menyadari ada yang tidak beres. Ia pingsan. Saya pingsan. Saya ingat saya memanggilnya. Saat itu ia merespons saya, namun kemudian ia tidak merespon lagi.

Saya memaksa diri saya untuk beranjak dari tempat tidur dan muntah, yang memberi saya kekuatan. Saya mulai merangkak ke arah telepon. Saya menelepon tetangga saya dan berkata: “Ada yang tidak beres, Harry tak sadarkan diri.”

Tetangga saya langsung datang, tapi butuh waktu lama untuk saya merangkak ke pintu depan agar ia bisa masuk saat aku pingsan. Saya melihat sekelompok orang datang, menjerit. Dan saya ambruk tak sadarkan diri lagi.

Saya terbangun di rumah sakit dan bertanya dimana suami saya berada. Mereka bilang mereka sedang merawatnya di kamar sebelah. Saya berkata: “Saya adalah seorang pendeta, saya telah melihat cukup banyak dalam hidup saya, saya ingin Anda terus terang kepada saya.” Dokter menatap saya dan berkata, “Maaf, suamimu tidak tertolong.”

Saya tidak bisa mempercayainya.

Hak atas foto TERRY GOBANGA
Image caption Terry menyematkan cincin di jari Harry.

Kembali ke gereja untuk pemakaman adalah hal yang sangat mengerikan. Baru sebulan yang lalu saya ke sana dengan gaun putih, bersama Harry berdiri di depan dan terlihat tampan dengan jasnya. Kini, saya mengenakan pakaian serba hitam dan melihat suami saya dimasukkan ke dalam peti mati.

Orang-orang mengira saya telah dikutuk dan mereka menjauhkan anak-anaknya dari saya. “Ada pengaruh buruk yang dalam dirinya,” kata mereka. Pada satu titik, saya benar-benar mempercayainya.

Sedangkan yang lainnya menuduh saya telah membunuh suami saya. Itu membuat saya sangat sedih karena saya sedang berduka.

Hasil autopsi menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi. Suami saya meninggal akibat keracunan karena karbonmonoksida yang memenuhi paru-parunya, ia tercekik dan tersedak.

Saya hancur berkeping-keping. Saya merasa dikecewakan oleh Tuhan, saya merasa dikecewakan semua orang. Saya tidak percaya bahwa orang bisa tertawa, pergi keluar dan hanya menjalani hidup. Saya terpuruk.

Suatu hari saya sedang duduk di balkon melihat burung-burung berkicau dan saya berkata: “Tuhan, bagaimana kau bisa merawat burung-burung ini tapi saya tidak?”

Pada saat itu saya ingat ada 24 jam dalam sehari – duduk dalam keadaan depresi dengan gorden tertutup. Tanpa terasa sudah seminggu, sebulan, setahun terbuang sia-sia. Itu adalah kenyataan yang sulit.

Saya mengatakan kepada semua orang bahwa saya tidak akan pernah menikah lagi. Tuhan mengambil suami saya, dan rasa kehilangan itu terlalu banyak. Itu adalah sesuatu yang tidak saya inginkan pada siapa pun. Rasa sakitnya luar biasa.

Tapi ada satu orang – Tonny Gobanga – yang terus berkunjung. Ia mendorong saya untuk berbicara tentang suami saya dan memikirkan masa-masa indah. Suatu saat ia tidak menelepon selama tiga hari dan saya sangat marah. Saat itulah saya tersadar bahwa saya telah jatuh cinta padanya.

Hak atas foto TERRY GOBANGA
Image caption Tonny dan Terry Gobanga.

Tonny ingin meminang saya, tapi saya menyuruhnya untuk membeli majalah, membaca kisah saya dan memberitahu saya apakah ia masih mencintai saya. Ia kembali dan mengatakan bahwa ia masih ingin menikahi saya.

Tapi saya mengatakan kepadanya: “Dengar, ada hal lain – saya tidak bisa punya anak, jadi saya tidak bisa menikah denganmu.”

“Anak-anak adalah anugerah dari Tuhan,” katanya. “Jika kita mendapatkannya, Amin. Jika tidak, saya akan punya lebih banyak waktu untuk mencintaimu.”

Saya berpikir: “Wow,” Jadi saya menerima pinangannya.

Tonny pulang untuk memberi tahu orang tuanya, mereka sangat gembira, sampai mereka mendengar cerita tentang saya. “Kamu tidak bisa menikahinya, ia sudah dikutuk,” kata mereka. Ayah mertua saya menolak menghadiri pernikahan, tapi kami tetap melanjutkannya. Ada 800 tamu yang datang ke pernikahan kami, mereka yang datang kebanyakan diliputi rasa penasaran.

Tiga tahun sudah pernikahan pertama saya berlalu dan saya sangat takut. Saat pemberkatan di gereja, saya berpikir: “Saya di sini lagi, Bapa, tolong jangan biarkan ia mati.” Saat jemaat berdoa untuk kami, tangis saya pecah.

Setahun setelah kami menikah, saya merasa tidak enak badan dan pergi ke dokter. Yang mengejutkan dokter mengatakan saya hamil.

Seiring berjalannya bulan, saya diberi banyak istirahat, karena bekas luka tusukan di rahim saya. Tapi semua berjalan dengan baik, dan kami memiliki bayi perempuan yang kami namai Tehille. Empat tahun kemudian, kami memiliki seorang bayi perempuan, kami beri nama Towdah.

Hak atas foto TERRY GOBANGA
Image caption Terry bersama kedua putrinya.

Kini, saya dan ayah mertua saya menjadi teman baik.

Saya menulis sebuah buku, berjudul Crawling out of Darkness(Merangkak di Kegelapan) yang mengisahkan tentang berbagai cobaan berat yang saya alami, untuk memberi harapan kepada orang-orang agar bisa bangkit kembali.

Saya juga mulai merintis sebuah organisasi bernama Kara Olmurani. Kami bekerja dengan para penyintas perkosaan, bukan korban perkosaan. Kami menawarkan konseling dan dukungan. Kami ingin membangun sebuah rumah bagi mereka agar mereka bisa datang dan menemukan pijakan sebelum kembali menghadapi dunia.

Saya sudah memaafkan orang-orang yang memperkosa saya. Itu memang tidak mudah tapi saya menyadari tidak bermanfaat marah kepada orang-orang yang mungkin tidak peduli. Agama saya mengajarkan untuk memaafkan dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi dengan kebaikan.

Yang paling penting adalah berduka. Melaluinya. Marahlah sampai Anda bersedia melakukan sesuatu tentang situasi Anda. Anda harus terus maju, merangkak jika harus melakukannya. Tapi teruslah maju meraih takdir Anda karena takdir sudah menunggu, dan Anda harus berjalan dan mendapatkannya.

TV PROGRAMS

Pertemuan tatap muka pertama antara Trump dan Putin di G20..

Presiden AS Donald Trump akan melakukan pertemuan tatap muka pertama dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin pada pertemuan puncak G20 di Hamburg Jerman.

Kedua pemimpin negara ini mengatakan ingin memperbaiki hubungan, yang dirusak dengan krisis Suriah dan Ukraina, dan juga dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu AS.

Menjelang G20, 76 polisi terluka dalam bentrokan dengan pemrotes. Pawai besar juga diperkirakan akan dilakukan Jumat (07/07) ini.

Dalam pertemuan ini, para pemimpin memiliki perbedaan pandangan terhadap perubahan iklim dan perdagangan.

Dua pemimpin ini akan bertemu pada Jumat (07/07) sore waktu setempat di sela-sela pertemuan G20.

Media Rusia melaporkan bahwa pertemuan akan terjadi sekitar satu jam, tetapi kemudian memperkirakan hanya 30 menit saja.

Dua presiden ini diperkirakan akan membahas masalah Suriah dan Ukraina.

Pada Kamis (06/07), Trump menyampaikan sebuah pidato di Ibu kota Polandia untuk meminta Rusia untuk berhenti “mendestablilisasi” Ukraina dan negara lain.

Moskow harus menghentikan dukungan untuk “rezim yang berseteru” seperti di Suriah dan Iran serta “bergabung dengan komunitas negara-negara yang bertanggung jawab”, kata dia.

Presiden Trump mendesak Rusia untuk bergabung “berperang melawan musuh bersama dan mempertahankan perabadan itu sendiri”.

Kremlin telah membantah komentar Trump.

Rusia menganeksasi bagian selatan semenanjung Krimea, Ukraina pada 2014, dan dituduh mengirimkan pasukan dan senjata untuk separatis di bagian Timur Ukraina.

Moskow membantah tuduhan itu, tetapi mengakui bahawa Rusia “secara sukarela” berperang bersama pemberontak.

Di Suriah, Washington mendukung sejumlah kelompok oposisi bersenjata, sementara Moskow merupakan sekutu utama Presiden Bashar al-Assad.

Kremlin telah menekankan pentingnya untuk mencari kesamaan pandangan, tetapi pilihan kata-kata dalam pidato Trump terhadap Rusiadi Warsawa menunjukkan dia memahami bahwa politik dengan terlihat terlalu dekat dengan Putin dan dia telah berupaya untuk melakukan sejumlah serangan, seperti dilaporkan wartawan BBC James Robbins.

Dan masih harus dilihat apakah isu tuduhan campur tangan Rusia terhadap pemilihan presiden AS pada 2016 akan dibahas dalam pertemuan Trump dengan Putin.

The Radical Power of Lana Del Rey…

On the cover of Lana Del Rey’s upcoming album “Lust for Life,” the singer is pictured in front of a dusty blue pickup truck, wearing a white lace dress and her signature 1960s winged eye liner, white daisies in her long, dark tresses. For the most part, the sun-bleached image conforms to the aesthetic Del Rey is known for ― dreamy, vaguely retro, Californian and a bit too consciously curated to be classically cool.

And yet there is something different about this image: Del Rey’s big, toothy smile.

There are few contemporary pop stars who opt to smile on their album covers. Reigning queens like Beyoncé, Rihanna and Taylor Swift most often assume “fierce,” serious poses, all pursed lips and knowing gazes, that ooze a bankable combination of sexuality and control. Looking back to icons like Stevie Nicks, Patti Smith and Kate Bush, they, too, assumed dramatic yet stern-faced postures that were theatrical, absurd and always achingly cool.

There are many explanations for the predilection to pout on camera. Quite simply, smiling isn’t cool. Tourists smile, class presidents smile, families of four dressed up in matching denim for a studio portrait smile. The learned gesture is not always genuine ― it can be too indicative of an eagerness to please.

But there are additional dangers when it comes to a woman smiling, specifically on the cover of an album ― her album ― signifying her art and work and self. The expression can be read as infantilizing, pandering, a visual manifestation of the societal pressures women are forced to endure on a daily basis. Smiling is to indulge the catcaller who hollers, “How ‘bout a smile, pretty lady,” or to assuage the unease of any and all men who pass by and take a gander.

There is a power in refusing to smile, instead assuming the serious countenance of an artist. To know that millions of eyeballs are destined to graze each plastic album cover and you will not appease the owner of each single pair. To deny a smile can be a form of success, of transcending the societal mandate that women live to please, of owning your own power and becoming an icon.

Until recently, the freedom to pose seriously for photos was granted to celebrities and few others. To assume that position without earning the status made one appear self-serious and vain. However, the rise of social media, selfies and one family of reverse-camera aficionados has encouraged women to embrace a good duck face now and then.

Posing is a mode of performance and play, of testing your boundaries in a space both private and public. Young feminist artists have embraced the technique’s exorcism of the male gaze, instead placing a woman as both subject and object of a photo, refusing to privilege one role over the other. By their own hands and cameras, women were permitted to embrace their seriousness and vanity and become icons in their own bedrooms.

A pioneer in the field is Audrey Wollen, who grew a massive following on Instagram by posting self-portraits that embraced her vulnerability, sexuality and artificiality. “I like the idea of Audrey Wollen performing Audrey Wollen without the space of a clearly artificial title or stage,” she told former HuffPost writer Tricia Tongco. “Everyone that exists online is part of a performance or is being performative. I don’t think [a strict version] of authenticity exists — we are mediated by technology and language.”

Wollen is also known for what she’s dubbed “Sad Girl Theory,” which Tongco described as “the proposal that the sadness of girls should be witnessed and reframed as an act of political protest rather than a personal failure.” At the top of the list of history’s most iconic sad girls is no other than Miss Del Rey.

Del Rey’s lyrics are often woozy, melodramatic and fatalistic. She appears eternally exhausted by the mere prospect of being alive. Or being alive as a woman. She is unapologetic in her malaise, though not entirely consistent. Like, you know, all people, she has swings in her selves and moods, both of which have been criticized since the dawn of her career.

When Del Rey dropped her first single, “Video Games,” in 2011, seemingly out of nowhere it garnered Pitchfork’s coveted Best New Track label. Following the release of her album “Born to Die” word got out that the mysterious songstress with the Instagram-worthy flower crown had a former life as Lizzie Grant, Fordham graduate, and daughter of an internet entrepreneur, who had released a lackluster EP titled “Kill Kill” in 2007.

The backlash to Del Rey’s origins was swift and brutal. “Yep, it was a pose,” The New York Times’ Jon Caramanica wrote, “cut from existing, densely patterned cloth. Just like all the other poses. And all the other cloths.” Caramanica did mention the absurdity (and sexism) built into the widespread outcry over a pop musician having (gasp!) a persona. He also mentioned her “fuller lips” twice.

How is a woman supposed to pose in a photograph, without appearing either childish, silly, pretentious, conceited or vain? How is a woman supposed to be, in a world where she’s always seen and always already on some sort of stage?

There is something striking about Lana’s easy smile for “Lust for Life,” which doesn’t appear to gratify anyone but herself. The fact that a female photographer (and Del Rey’s little sister) Chuck Grant took the photo might help with that conclusion. The image doesn’t subscribe to the typical women-musician formula demanding they appear “iconic,” or more than human, to garner respect.

The overall style of Del Rey’s photo is highly mediated, cropped into a softened square, faded into a hazy palette straight out of Instagram. Her look is 1960s California dreamer babe ― not the woman who Lizzie Grant was born, but the one that Lana Del Rey became.

Legend of Bubur Ayam…

Bubur ayam adalah salah satu jenis makanan bubur dari Indonesia. Bubur nasi adalah beras yang dimasak dengan air yang banyak sehingga memiliki tekstur yang lembut dan berair. Bubur biasanya disajikan dalam suhu panas atau hangat. Bubur ayam disajikan dengan irisan daging ayam dengan beberapa bumbu, seperti kecap asin dan kecap manis, merica, garam, dan kadang-kadang diberi kaldu ayam. Bubur dilengkapi dengan taburan daun bawang cincang, bawang goreng, seledri, tongcai (sayur asin), kedelai goreng, cakwe, dan kerupuk. Bubur ayam cocok bagi mereka yang kurang menyukai masakan Indonesia yang pedas, karena bubur umumnya tidak pedas; sambal atau saus cabe disajikan secara terpisah.

Bubur ayam kerap menjadi pilihan makanan untuk sarapan, tetapi bubur ayam sebenarnya dapat dimakan kapan saja. Selain sarapan, bubur ayam kerap menjadi pilihan hidangan hangat di tengah malam. Karena teksturnya yang lembut, disajikan hangat-hangat, serta memiliki kandungan gizi yang cukup baik, bubur ayam kerap dijadikan makanan bayi, anak-anak, atau orang sakit yang tengah dirawat untuk pemulihan.

Banyak jenis dan variasi bubur ayam yang ada, tetapi resep paling lazim adalah bubur ayam yang disajikan dengan potongan atau suwiran daging ayam, seledri, ditambah irisan cakwe sebagai pelengkap, lalu diberi kerupuk di atasnya. Kecap asin, kecap manis dan merica menjadi penambah cita rasa yang tak bisa dipisahkan dari makanan yang banyak digemari.Seledri dan tongcai (sayuran yang diasinkan biasanya terbuat dari lobak) juga bisa ditambahkan untuk mempercantik tampilan dan rasa.

Bubur ayam lazim dijumpai di Indonesia, mulai dari dimasak sendiri di rumah, dijajakan di gerobak pedagang keliling, atau dihidangkan di rumah makan. Dengan banyaknya orang yang menyukai masakan ini, para pembuat atau pedagang bubur ayam biasanya memiliki ide atau kreasi sendiri, misalnya Bubur Ayam Sukabumi biasanya menambahkan telur ayam kampung mentah yang ditimbun dalam bubur panas hingga termasak setengah matang. Sate usus, hati dan ampela ayam biasanya ditambahkan sebagai hidangan tambahan bubur ayam. Bubur ayam adalah hidangan yang dapat kita tambahkan makanan lain ke dalamnya sesuai selera kita.